Archive for the ‘Reksa Dana berbasis SAHAM’ Category

play hard, study hard, invest…..egp

Sunday, April 20th, 2008

tren-mds-bwat-anak-gw-03-0.jpg

… begitu lah sikap anak gw kalo diocehin soal hasil2 investasi bwat doi …

TREN NAB Manulife Dana Saham YTD 2008

Sunday, April 20th, 2008

tren-nab-mds-awal-2008-rev01.jpg

… tren yang sama berlaku pada manulife dana saham, reksa dana berbasis saham ini juga sedang menuju bullish trend … semoga the fed bisa memantapkan situasi perekonomian amrik dan global melalui kebijakan yang benar2 diterima pasar secara umum dan global … jadi, bullish trend bursa saham global akan berpengaruh terhadap bullish trend bursa efek indonesia, selanjutnya ke MDS juga … well, wait n c d

ps. YTD= year to date, artinya dari tgl awal tahun, 02 Jan 2008, s/d 18 April 2008.

Tren NAB Fortis Ekuitas YTD 2008

Saturday, April 19th, 2008

tren-nab-fe-awal-2008-rev01.jpg

sayang, gw susah nyesuaikan besar grafik dengan tampilan pada blog ini … anyway, kalo liat grafik di atas maka bisa dibilang fortis ekuitas, sebagai reksa dana berbasis saham, sedang mengalami konsolidasi menuju bullish trend … tapi bullish trend akan sangat ditentukan oleh faktor inflasi (bbm mo naek, misalnya), dan faktor eksternal… well, liat aja d

yesu v. BF (9)

Saturday, April 19th, 2008

Selain alasan di atas, investasi saham melalui reksa dana tidak cocok untuk para investor penganut strategi fokus. Jika strategi diversifikasi didasarkan pada asumsi minimisasi risiko, strategi fokus dikembangkan dari asumsi maksimisasi keuntungan. Dari artikel saya bulan lalu, Anda tentunya sudah tahu dahsyatnya kekuatan strategi fokus.

Anda tertarik? Mulailah dengan mengalihkan 20% portofolio reksa dana saham Anda dan tingkatkan hingga 50% dalam saham langsung. Setelah membagi sama rata portofolio Anda antara saham langsung dan tidak langsung, bandingkanlah kinerja keduanya setelah 1-2 tahun. Jika reksa dana saham lebih baik, silahkan kembali lagi ke reksa dana saham 100%; dan sebaliknya, jika portofolio saham langsung Anda yang lebih unggul.

… NO CommenTO … hehehehehehhe

yesu v. BF (8)

Saturday, April 19th, 2008

Sebenarnya, benchmarking yang lebih tepat untuk kinerja MI bukan return IHSG, tetapi return IHSG + dividend yield. Keuntungan investor saham adalah capital gain dan dividen, sedangkan IHSG hanya mencerminkan komponen capital gain. Jika IHSG naik 16% dalam setahun, MI yang hanya mampu memberikan return sebesar 18% mestinya termasuk di bawah rata-rata karena return benchmarking menjadi 20% (16% + 4%). Kenyataannya, dividend yield yang sekitar 4% setahun tidak pernah digunakan dalam penilaian MI dan cenderung disembunyikan untuk mempercantik kinerja MI.… berdasarkan pengalaman gw, schroder, manulife, fortis sudah bisa menghasilkan hasil di atas IHSG+ …

yesu v. BF (7)

Saturday, April 19th, 2008

Akan lebih ironis lagi jika yang mengalami return di bawah IHSG adalah reksa dana saham yang mengenakan subscription fee dan redemption fee tinggi. Seperti kita ketahui bersama, salah satu reksa dana terbesar yang high-profile menetapkan subscription dan redemption fee sampai sebesar 2% masing-masingnya. Ini berarti, nasabah harus siap menanggung biaya hingga 4% jika berinvestasi hanya setahun lamanya.

Menurut saya, fee 4% apalagi jika ada management fee dan selling agent fee, sungguh kemahalan dan membuat reksa dana saham kurang menarik. Mengapa kita harus membayar mahal hanya untuk membeli b satu? Jika tidak ada kendala keterbatasan dana, bukankah kita dapat dengan mudah melakukannya yaitu dengan mengoleksi saham-saham LQ-45?

… persoalannya, apakah dengan fee segede gajah itu kinerja produk reksa dana berbasis sahamnya juga menggiurkan? well, berdasarkan pengalaman gw, emang lebih menggiurkan sih … tapi kalo uda terlalu mapan, manajer investasi seperti itu akan terkesan MALAS BERINOVASI/SWITCHING, dan cuma cari AMAN sebesar-besarnya… misalnya, SCHRODER  DIBANDINGKAN DENGAN FORTIS

yesu v. BF (6)

Saturday, April 19th, 2008

Tentang MI, Anda tahu apa yang paling mereka takuti, tetapi ditanggapi biasa oleh investor saham lainnya? Sejujurnya, MI sangat cemas kalau return reksa dana kelolaannya di bawah return IHSG karena akan mempengaruhi kinerja dan prospeknya.

Jika ini terjadi, kinerja MI itu akan langsung dikatakan di bawah pasar atau di bawah rata-rata. Akibatnya, calon investor baru kemungkinan tidak akan melirik reksa dana sahamnya; dan lebih parah lagi, sebagian nasabah yang ada mungkin akan menarik dananya (redemption) dan memindahkannya ke reksa dana saham lain.

Karenanya, tidak mengherankan kalau MI berusaha semaksimal mungkin agar kinerjanya tidak di bawah IHSG dan lebih baik lagi kalau dapat mengunggulinya. Caranya adalah dengan membuat portofolionya mendekati karakteristik pasar atau mempunyai b sekitar satu. Ini dilakukan dengan menerapkan strategi diversifikasi dan mengoleksi saham yang mempunyai bobot besar dalam penghitungan IHSG seperti saham-saham LQ-45.

… ya NO COMMent d

yesu v. BF (5)

Saturday, April 19th, 2008

Kebalikan dari kondisi semua rugi adalah semua menang atau win-win game. Inilah yang terjadi di bursa kita selama lima tahun berturut-turut (2003-2007). Hampir semua investor seperti mendapatkan keuntungan yang tidak habis-habisnya, baik dari capital gain maupun dari dividen yang dibagikan. Semakin jelas kan kalau investasi saham bukan zero-sum game?

… ga usa pake tanda tanya lagi de … artinya pengalaman gw sejak 2002 (akhir)-2008 (awal) memang menunjukkan gain di atas 500% itu ga boong sama sekali … tapi ini adalah proses yang menyita emosi pada awalnya, namun enjoyable setelah melalui berbagai situasi terburuk (termasuk yang terjadi sejak 22 Januari 2008 s/d sekarang) … semoga taon ini tetap happy ending ya…

yesu v. BF (4)

Saturday, April 19th, 2008

Saham = zero-sum game?

Sebagai investor saham langsung, Anda menghadapi risiko kerugian yang hampir sama seperti investor saham tidak langsung jika pasar bearish dan indeks terus turun. Inilah ketakutan dan risiko utama investasi saham. Logikanya, jika indeks saham bergerak sideways saja alias turun dan naik terjadi hampir sama seringnya, investasi saham akan mirip seperti zero-sum game. Tidak persis sama pastinya, karena saham umumnya memberikan dividen.

Jika investor masih dapat menikmati keuntungan dari dividen saat indeks hanya turun-naik, tidak demikian halnya jika indeks terus merosot seperti yang dialami investor di bursa saham Tokyo dalam 19 tahun terakhir atau investor di bursa kita pada periode Juli 1997-September 1998.

Pada periode itu hampir semua investor saham langsung dan tidak langsung dipastikan mengalami kerugian. Ini membuktikan investasi saham bukan zero-sum game, tapi non-zero game karena semuanya bisa rugi alias lose-lose game.

… emang neh, pandangan orang awam aneh2, sok pintar bilang bahwa bursa saham itu zero sum game … namanya juga pendapat, ya, dibuktikan oleh BF bahwa pandangan itu tidak benar!

yesu v. budi frensidy (3)

Saturday, April 19th, 2008

BF menulis: Dalam artikel tentang kiat menilai reksa dana saham, saya mengatakan kalau tidak ada reksa dana saham yang terbukti mempunyai kemampuan market timing (antisipasi pasar) yang hebat atau b2 positif. Penelitian mengenai kinerja reksa dana saham oleh Rachman Untung (periode Januari 2004 - Desember 2006) dan oleh Djumyati Partawidjaja (Juni 2006 - Juni 2007) membuktikannya.

Tentang kemampuan pemilihan saham (a) seluruh MI yang ada di Indonesia, Untung hanya menemukan satu MI yang mempunyai a positif yang signifikan pada tingkat keyakinan 99%, sedangkan Partawidjaja tidak menemukan. Ini menunjukkan MI secara rata-rata tidak memiliki kemampuan superior alias tidak lebih cerdas dari investor piawai (investor tingkat 4).

…. well, benar seh n setuju seh … makanya kemampuan antisipasi investor reksa dana juga harus tinggi kalo emang mo pake market timing system (short term adjustment) … kemampuan antisipasi investor reksa dana adalah membaca situasi makro-global ekonomi (misalnya, harga bbm global terkait fiskal indonesia), membaca situasi teknikal indeks (ihsg), membaca situasi politik, membaca situasi psikologi pasar (bearish trend v. bullish trend), membaca secara melawan arus (contrarian), switching to lower risk and lower gain mutual fund type, long term focus, dll… persoalannya, ada ga investor reksa dana yang mau melakukan hal2 seperti di atas…